Minggu, 26 Januari 2014

singkatku

Orang Islam kebanyakan seperti orang Hindu. Mereka mengukir tuhan mereka. Kalau orang Hindu mengukir tuhan dari batu, orang Islam mengukir tuhan mereka dengan tinta. Setelah tuhannya selesai dipoles, lengkap dengan atribut surga dan neraka, azab dan siksa, baru disembah. Ukiran yang terbaik adalah yang bertahan paling lama. Hingga kini, pahatan Abu Hasan Asy'ari yang teruji paling kokoh dan pernak-pernik buatan Imam Syafi'i yang paling disukai.
*
Bila seseorang telah ditolak oleh semua golongan, ditentang oleh seluruh sistem pemikiran yang ada, maka berarti orang tersebut telah sampai pada derajat Isa. Berarti orang tersebut benar-benar dicintai Allah: Allah tidak ingin ada yang lain selain Dia yang mencintainya. Dia Sendiri yang akan menganggat orang tersebut, orang yang dibenamkan oleh aneka sistem dan diusir oleh semua golongan.
»»  read more

siapa kamu

Siapa kamu
Penuh misteri 
Bersembunyi di balik kabut 
Abu-abu

Sesuatu di dalam dada 
Memaksa selalu 
Mencari dirimu
Meski jauh 
kau serasa separuh aku
»»  read more

Al-Attas Konyol

''... Raja Brawijaya menikah dengan Putri Jeumpa" demikian tulis Harian Republika h. 5 edisi Ahad 26 Januari 2014. Kajian tersebut adalah tema tentang peran etnis Tionghua dalam proses Islamisasi Nusantara. Dalam pembahasan tentang alasan beragama Islam, ditulis lima Poin. Salah poinnya adalah kutipan di atas. 
Apresiasi patut ditujukan kepada harian tersebut di atas karena akurasinya dalam penyebutan kata "Jeumpa". Akurasi ini semakin menegaskan penelusuran sejarawan seperti Rusdi Sufi yanh mengatakan kerajaan Islam pertama Nusantara adalah Jeumpa. Sufi coba meluruskan bahwa Kerajaan 'Champa' yang serinh disebut dalam pembahasan sejarah terkait tentang penyebaran Islam bukanlah 'Champa' di Myanmar tetapi adalah Kerajaan Jeumpa di Aceh. Kesalahpahaman ini terjadi karena pelesetan penyebutan kata. Para penerus lidah dan tinta suka mempelesetir penyebutan asli kepada penyebutan yang mudah mereka sebutkan.
Bukti paling jelas dilakukan Prof. Naquib Al-Attas. Ketika dia melakukan pemilahan antara fiksi dan fakta dalam dokumen-dokumen sejarah penyebaran Islam di Nusantara, dalam bukunya 'Historical Fact. And Fiction' dia melalukan kesalahan besar dalam menyebut kata 'Peureulak'. Dia mempelesetir menjadi 'Perlak' tanpa memberi keterangan apapun.
Praktik deskriminasi sejarah ini sering terjadi sehingga para pengkaji sejarah malah menjadi penghalang fakta sejarah untuk terkuak. Kesalahan semacam inilah yang dilakukan kepada penyebutan 'Jeumpa'. Kata ini dipelesetir menjadi 'Jampa', 'Jempa' hingga populer menjadi 'Campa' adalah karena kesulitan orang-orang selain Aceh dalah menyebutkan kata 'Jeumpa'. Pelesetan ini sudah sangat umum terjadi. Misalnya lagi kata 'Meutia' menjadi 'Mutiah', dan 'Mutia' hingga 'Masjid Cut Meutia di Menteng, Jakarta menjadi 'Masjid Cut Mutia'.
Persoalan yang dianggap kecil dalam pengungkapan fakta sejarah yang dianggap sepele ternyata merupakan persoalan pokok. Kerajaan Jeumpa di Aceh sebagai kerajaan Islam Pertama Nusantara semakin terbukti dengan ditemukannya artefak yang berusia lebih tua dari kerajaan Samudra Pase ('e' pada kata 'pase' diucapkan seperti pengcapan 'e' pada kata 'bebek'), bahkan Kerjaan Peureulak. Di samping itu, bukti-bukti lain adalah pendiri Kerajaan Peureulak adalah Syahriansyah Syahr Nawn yang merupakan salah seorang Putra Salman yang menikahi salah seorang putri Raja Jeumpa. Putra Salman lainnya adalah Syar Poli yang mengislamkan Pedir (Pidie) dan putra lainnya mengislamkan Tanah Gayo.
»»  read more